WASHINGTON D.C. — Hanya seperempat warga Amerika Serikat, atau sekitar 25%, menyatakan dukungan terhadap potensi serangan militer oleh Amerika Serikat terhadap Iran. Demikian hasil jajak pendapat terbaru yang dilakukan oleh Reuters bersama Ipsos, yang dirilis pada awal tahun 2026 ini, menyoroti keraguan publik yang mendalam atas intervensi militer di Timur Tengah.
Survei daring tersebut menemukan bahwa mayoritas signifikan responden, sekitar 55%, secara tegas menentang tindakan militer ofensif terhadap Teheran. Sisanya menyatakan tidak yakin atau abstain, mencerminkan kompleksitas dan polarisasi isu geopolitik yang terus membayangi kawasan.
Temuan ini menggarisbawahi tantangan berat bagi pemerintahan Presiden Joe Biden dalam menavigasi kebijakan luar negeri yang sensitif. Tekanan publik untuk menghindari eskalasi konflik nampak jelas, terutama setelah pengalaman panjang Amerika Serikat dalam keterlibatan militer di Irak dan Afghanistan.
Ketidakpastian ekonomi global dan inflasi yang masih membayangi juga disinyalir berkontribusi pada keengganan publik untuk mendukung petualangan militer baru. Banyak warga khawatir akan biaya finansial dan korban jiwa yang mungkin timbul akibat konflik bersenjata berskala besar.
Para analis politik menilai bahwa sentimen anti-intervensi ini bukanlah hal baru. Profesor Dr. Amelia Clarkson, pakar hubungan internasional dari Universitas Georgetown, menyatakan, "Sejarah telah mengajarkan publik Amerika bahwa solusi militer jarang menyelesaikan masalah kompleks di Timur Tengah secara permanen. Ada keinginan kuat untuk prioritas domestik."
Jajak pendapat ini melibatkan ribuan warga Amerika Serikat dari berbagai latar belakang demografi dan politik. Hasilnya menunjukkan penolakan kuat terhadap tindakan agresi militer melampaui garis partisan, meskipun perbedaan tipis mungkin ada di antara pendukung partai Demokrat dan Republik.
Hubungan antara Washington dan Teheran memang telah lama tegang, diperparah oleh isu program nuklir Iran, dukungan terhadap kelompok proksi di regional, serta sanksi ekonomi yang diterapkan Amerika Serikat. Namun, preferensi publik jelas cenderung pada solusi diplomatik.
Pemerintahan Biden secara konsisten menegaskan komitmennya terhadap jalur diplomatik, sembari mempertahankan tekanan ekonomi dan militer untuk mencegah Iran mengembangkan senjata nuklir. Namun, survei ini memperkuat argumen bahwa opsi militer tidak populer di mata konstituennya.
Penolakan terhadap serangan militer juga dapat dilihat sebagai refleksi dari kelelahan perang (war fatigue) yang dirasakan warga Amerika. Publik lebih mengharapkan pemerintah berfokus pada tantangan internal, seperti perawatan kesehatan, pendidikan, dan infrastruktur.
Data survei ini akan menjadi pertimbangan penting bagi Gedung Putih dan Kongres Amerika Serikat. Setiap keputusan terkait kebijakan luar negeri, khususnya yang berpotensi memicu konflik bersenjata, kemungkinan besar akan menghadapi pengawasan ketat dan perdebatan sengit dari masyarakat dan legislatif.
Alih-alih konfrontasi militer, opsi lain seperti peningkatan sanksi, negosiasi yang lebih intensif, atau membangun koalisi regional untuk menekan Iran secara diplomatik mungkin akan lebih mendapat dukungan dari warga Amerika. Konsensus ini menyoroti pentingnya strategi yang lebih holistik dan menghindari pendekatan unilateral.