Duka Mendalam Putin: Sahabatnya, Ali Larijani dari Iran, Gugur oleh Israel

Robert Andrison Robert Andrison 20 Mar 2026 06:28 WIB
Duka Mendalam Putin: Sahabatnya, Ali Larijani dari Iran, Gugur oleh Israel
Presiden Rusia Vladimir Putin dan politikus senior Iran Ali Larijani dalam sebuah pertemuan diplomatik di masa lalu, menunjukkan kedekatan hubungan personal dan strategis kedua tokoh. Kematian Larijani memicu duka mendalam di Kremlin. (Foto: Ilustrasi/Net)

MOSKOW — Presiden Rusia Vladimir Putin menyatakan duka cita mendalam atas gugurnya Ali Larijani, politikus senior dan mantan Ketua Parlemen Iran, yang disinyalir tewas dalam operasi intelijen Israel di Teheran pekan lalu. Insiden ini, yang terjadi pada akhir kuartal pertama tahun 2026, segera memicu gelombang kecaman dari Teheran dan memperkeruh lanskap geopolitik Timur Tengah yang sudah tegang.

Kantor berita TASS melaporkan bahwa Putin secara pribadi telah menghubungi pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, menyampaikan belasungkawa dan mengecam keras tindakan yang disebutnya sebagai “terorisme negara” yang mengancam stabilitas regional dan internasional.

Pemerintah Iran, melalui Kementerian Luar Negeri, telah secara resmi menuding Israel sebagai dalang di balik pembunuhan Larijani. Mereka bersumpah akan membalas dendam atas apa yang mereka sebut sebagai “kejahatan keji terhadap seorang pahlawan revolusi dan diplomasi.” Larijani, yang berusia 69 tahun, dikenal sebagai sosok sentral dalam kebijakan luar negeri Iran dan memiliki hubungan erat dengan lingkaran kekuasaan di Kremlin.

Menurut laporan awal dari sumber-sumber intelijen regional yang enggan disebutkan namanya, Larijani tewas akibat ledakan bom mobil yang dikendalikan dari jarak jauh di dekat kediamannya di utara Teheran pada pagi hari. Pihak berwenang Iran masih melakukan investigasi menyeluruh, namun narasi resmi telah menunjuk Tel Aviv sebagai pelakunya.

Israel, seperti biasa dalam kasus-kasus sensitif semacam ini, belum mengeluarkan pernyataan resmi. Kedutaan Besar Israel di berbagai negara memilih bungkam, mencerminkan kebijakan ambiguitas strategis yang kerap mereka terapkan terkait operasi rahasia di luar negeri.

Kematian Larijani bukan hanya kehilangan personal bagi Putin, yang telah menjalin persahabatan dekat dengannya selama dekade terakhir melalui berbagai forum multilateral dan bilateral, melainkan juga pukulan telak bagi arsitektur diplomatik yang berusaha dibangun Rusia di Timur Tengah. Larijani merupakan jembatan penting antara Moskow dan Teheran dalam berbagai isu krusial, termasuk kesepakatan nuklir dan situasi di Suriah.

Analis politik internasional, Profesor Dmitri Volkov dari Universitas Negeri Moskow, menilai bahwa insiden ini merupakan eskalasi berbahaya yang dapat memicu babak baru konflik proxy di kawasan. “Gugurnya Larijani menandai titik balik. Ini adalah pesan provokatif dari Israel kepada Iran dan sekutunya, termasuk Rusia,” ujar Volkov.

Teheran telah mengumumkan tiga hari berkabung nasional dan menunda semua agenda politik penting, termasuk persiapan pemilihan anggota Dewan Pakar yang dijadwalkan pada akhir tahun ini. Upacara pemakaman Larijani dihadiri ribuan pelayat dan sejumlah pejabat tinggi dari berbagai negara sahabat Iran.

Dalam pidato yang disiarkan televisi nasional, Presiden Iran Hassan Rouhani mengecam keras tindakan tersebut dan menegaskan bahwa Iran tidak akan gentar menghadapi “terorisme Zionis.” Ia berjanji akan memberikan respons tegas yang setimpal pada waktu dan tempat yang tepat.

Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dijadwalkan akan menggelar pertemuan darurat untuk membahas situasi genting ini. Sekretaris Jenderal PBB telah menyerukan semua pihak untuk menahan diri dan menghindari tindakan yang dapat memperburuk ketegangan. Namun, harapan akan resolusi damai terasa semakin tipis di tengah retorika konfrontatif dari kedua belah pihak.

Peristiwa ini terjadi di tengah meningkatnya ketegangan antara Iran dan Israel, yang telah saling menuduh melakukan sabotase dan serangan siber dalam beberapa bulan terakhir. Gugurnya Larijani dikhawatirkan akan memicu spiral kekerasan yang sulit dikendalikan, menyeret lebih banyak aktor regional ke dalam pusaran konflik.

Informasi Valid Sumber Referensi Resmi
www.google.com
Robert Andrison

Tentang Penulis

Robert Andrison

Jurnalis dan Editor di Cognito Daily. Menyajikan informasi terkini dan faktual untuk pembaca.

Bagikan Artikel:

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!