SANAA — Kelompok Houthi Yaman secara drastis meningkatkan serangan rudal dan drone mereka terhadap target di Israel, sebuah langkah yang diyakini secara luas merupakan koordinasi langsung dengan Teheran, memicu kekhawatiran mendalam akan eskalasi konflik di Timur Tengah. Aksi ini, terjadi dalam beberapa pekan terakhir tahun 2026, bukan saja memperluas medan tempur namun juga mengancam stabilitas maritim global melalui jalur pelayaran Laut Merah yang vital.
Peningkatan agresi ini mencakup peluncuran rudal balistik jarak jauh serta drone pengintai dan serang yang menargetkan wilayah Eilat dan fasilitas militer lain di selatan Israel. Serangan-serangan tersebut menunjukkan kapabilitas Houthi yang semakin canggih, seringkali berhasil menembus sistem pertahanan udara atau setidaknya memicu respons sigap dari Pasukan Pertahanan Israel (IDF).
Intelijen Barat dan Israel menuding Iran sebagai dalang utama di balik peningkatan kemampuan militer Houthi. Teheran diduga kuat memasok teknologi, pelatihan, dan dukungan logistik esensial kepada kelompok proksinya di Yaman, memungkinkan mereka melancarkan serangan yang lebih presisi dan terkoordinasi. Keterlibatan ini menempatkan Iran dalam posisi yang semakin konfrontatif.
Juru bicara Houthi berulang kali menyatakan bahwa serangan mereka merupakan bentuk solidaritas tak tergoyahkan terhadap rakyat Palestina, khususnya di tengah krisis kemanusiaan yang berlanjut. Mereka berdalih aksi ini adalah respons langsung terhadap kebijakan Israel di Gaza dan Tepi Barat, serta upaya menekan Tel Aviv agar menghentikan operasi militernya.
Sementara itu, Iran memanfaatkan Houthi sebagai bagian dari strategi "poros perlawanan" yang lebih luas, bertujuan menantang dominasi Israel dan Amerika Serikat di wilayah tersebut. Eskalasi ini memperkuat posisi tawar Teheran di panggung regional dan internasional, menunjukkan kemampuannya untuk mengganggu stabilitas jika kepentingannya terancam.
Dampak geopolitik dari "turun gunungnya" Houthi sangat signifikan. Konflik yang sebelumnya terkonsentrasi di Gaza dan perbatasan Israel-Lebanon kini melebar secara geografis. Ini meningkatkan risiko konfrontasi langsung antara kekuatan regional dan global, termasuk potensi intervensi militer dari Amerika Serikat dan sekutunya untuk mengamankan jalur pelayaran.
Laut Merah, sebagai salah satu urat nadi perdagangan dunia yang menghubungkan Eropa dan Asia, kini menjadi zona berisiko tinggi. Perusahaan pelayaran internasional terpaksa mengubah rute kapal melalui Tanjung Harapan di Afrika Selatan, memperpanjang waktu tempuh dan meningkatkan biaya logistik secara substansial. Ini berujung pada kenaikan harga energi dan komoditas global.
Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) telah mengadakan beberapa sesi darurat, menyerukan semua pihak untuk menahan diri dan segera menghentikan eskalasi. Namun, upaya diplomatik sejauh ini belum membuahkan hasil konkret, terutama karena perbedaan pandangan antara negara-negara Barat dan Timur Tengah mengenai akar permasalahan konflik.
"Keterlibatan Houthi bukan lagi sekadar ancaman, melainkan realitas medan perang yang sangat berbahaya," ujar Dr. Aisha Rahman, seorang analis kebijakan luar negeri dari Institut Studi Strategis Global di Singapura, dalam sebuah diskusi panel virtual. "Ini menandakan bahwa Teheran memiliki kendali yang lebih besar atas kelompok proksinya daripada yang diperkirakan sebelumnya, dan siap menggunakannya untuk menekan lawan-lawannya."
Pakar militer menilai, strategi Houthi dan Iran adalah menguji batas kesabaran internasional dan kapasitas pertahanan Israel. Mereka sengaja menciptakan "zona abu-abu" di mana serangan tidak secara langsung berasal dari Iran, namun dampaknya sama parahnya, sehingga mempersulit respons militer yang proporsional dari Israel atau AS.
Sejarah konflik Houthi dengan Arab Saudi dan pemerintah Yaman yang diakui internasional menunjukkan bahwa kelompok ini tidak gentar menghadapi kekuatan yang lebih besar. Pengalaman mereka dalam perang gerilya dan penggunaan rudal telah membentuk kapabilitas militer yang solid, meskipun dengan sumber daya yang terbatas.
Melihat situasi ini, komunitas internasional menghadapi dilema rumit. Di satu sisi, ada kebutuhan mendesak untuk meredakan ketegangan dan mencegah perang regional skala penuh. Di sisi lain, respons yang terlalu lunak dapat diinterpretasikan sebagai lampu hijau bagi aktor non-negara untuk terus mengganggu stabilitas global. Solusi berkelanjutan tampaknya masih jauh dari jangkauan.