Kemenag: Hisab Prediksi Awal Ramadan 19 Februari, Rukyat Penentu Utama

Dodi Irawan Dodi Irawan 18 Feb 2026 23:13 WIB
Kemenag: Hisab Prediksi Awal Ramadan 19 Februari, Rukyat Penentu Utama
Suasana Sidang Isbat penentuan awal bulan Hijriah yang diselenggarakan oleh Kementerian Agama Republik Indonesia, melibatkan ulama dan pakar astronomi.

JAKARTA — Kementerian Agama (Kemenag) melalui mekanisme perhitungan hisab memprediksi awal Ramadan 1445 Hijriah akan jatuh pada Senin, 19 Februari 2024. Prediksi ini menjadi acuan awal sebelum penetapan resmi yang akan diputuskan melalui Sidang Isbat, dengan mempertimbangkan hasil pengamatan rukyatul hilal di berbagai titik.

Perhitungan hisab merupakan metode saintifik yang berbasis pada ilmu astronomi untuk menghitung posisi bulan dan matahari. Metode ini seringkali digunakan sebagai referensi awal dalam menentukan kemungkinan terlihatnya hilal, bulan sabit pertama pasca-konjungsi.

Sidang Isbat, forum krusial yang diselenggarakan Kemenag, akan melibatkan perwakilan organisasi masyarakat Islam, para pakar astronomi, dan tokoh agama. Tujuannya adalah mencapai kesepakatan dan menyatukan pandangan dalam penetapan awal Ramadan, demi menjaga persatuan umat.

Meskipun hisab memberikan proyeksi, penentu utama awal bulan Qamariah, termasuk Ramadan, di Indonesia adalah rukyatul hilal atau pengamatan langsung hilal. Pengamatan akan dilakukan di puluhan lokasi strategis yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia.

Tim hisab rukyat Kemenag bersama pihak terkait seperti Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) serta Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) akan dikerahkan. Mereka bertugas memverifikasi terlihatnya hilal setelah matahari terbenam pada hari yang ditentukan.

Seringkali, terdapat perbedaan antara hasil hisab dengan hasil rukyatul hilal, terutama jika posisi hilal masih terlalu rendah atau tertutup awan. Hal ini memicu diskusi intens dalam Sidang Isbat sebelum keputusan final diumumkan kepada publik.

Pemerintah, melalui Kemenag, berperan sebagai otoritas tunggal yang berwenang menetapkan awal Ramadan. Keputusan ini penting untuk memastikan seluruh umat Islam di Indonesia memulai ibadah puasa secara serentak.

Sidang Isbat memiliki sejarah panjang sebagai mekanisme demokratis dalam penentuan hari-hari besar Islam di Indonesia. Proses ini mengakomodasi berbagai pandangan dan keilmuan, dari fiqih hingga sains modern.

Masyarakat diimbau untuk tidak terpancing informasi belum sahih sebelum pengumuman resmi dari Kemenag. Menjaga ketenangan dan menunggu hasil Sidang Isbat adalah bentuk ketaatan terhadap kesepakatan nasional.

Penyatuan persepsi mengenai awal Ramadan ini sangat vital untuk menjaga harmoni sosial dan keagamaan. Kemenag terus berkomitmen untuk menghadirkan keputusan yang kredibel dan dapat diterima luas oleh seluruh elemen masyarakat.

Setelah pengamatan hilal, data dari berbagai lokasi akan dikumpulkan dan dipresentasikan dalam Sidang Isbat. Diskusi akan berujung pada penetapan final yang akan diumumkan oleh Menteri Agama.

Penetapan awal Ramadan juga memiliki dampak luas, tidak hanya pada aspek spiritual, tetapi juga pada aktivitas sosial dan ekonomi. Persiapan masyarakat, seperti penyesuaian jam kerja dan kegiatan pasar, sangat bergantung pada ketetapan tersebut.

Harapannya, proses Sidang Isbat berjalan lancar dan menghasilkan keputusan yang disepakati bersama, sehingga umat Islam dapat menjalankan ibadah puasa dengan khusyuk dan penuh kebersamaan.

Informasi Valid Sumber Referensi Resmi
www.google.com
Dodi Irawan

Tentang Penulis

Dodi Irawan

Jurnalis dan Editor di Cognito Daily. Menyajikan informasi terkini dan faktual untuk pembaca.

Bagikan Artikel:

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!