PM Lebanon Larang Aktivitas Militer Hizbullah Usai Serangan Israel

Debby Wijaya Debby Wijaya 03 Mar 2026 04:21 WIB
PM Lebanon Larang Aktivitas Militer Hizbullah Usai Serangan Israel
Perdana Menteri Lebanon Najib Mikati (tengah) dalam konferensi pers di Beirut, mengumumkan dekret pelarangan aktivitas militer Hizbullah, di tengah ketegangan regional pada tahun 2026. (Foto: Ilustrasi/Net)

BEIRUT — Perdana Menteri Lebanon, Najib Mikati, secara resmi mengeluarkan dekret pelarangan terhadap seluruh aktivitas militer kelompok Hizbullah di wilayah Lebanon. Kebijakan ini diambil menyusul serangan berskala besar yang baru-baru ini dilancarkan ke Israel, memicu kekhawatiran serius akan eskalasi konflik di Timur Tengah.

Langkah drastis ini menggarisbawahi upaya pemerintah Lebanon untuk menstabilkan situasi keamanan domestik dan mencegah negaranya terseret lebih dalam ke dalam pusaran konflik regional. Larangan tersebut mencakup operasi ofensif, latihan militer, hingga pergerakan bersenjata yang tidak berada di bawah kendali penuh Angkatan Bersenjata Lebanon.

Keputusan ini diumumkan Mikati dalam sebuah konferensi pers di Beirut pada hari Kamis, menekankan bahwa kedaulatan Lebanon dan keselamatan warganya adalah prioritas utama. "Kami tidak akan membiarkan Lebanon menjadi medan perang bagi kepentingan pihak mana pun," tegas Mikati, mengisyaratkan keinginan kuat untuk menegakkan otoritas negara.

Insiden yang memicu larangan ini adalah serangkaian serangan roket dan drone yang diklaim oleh kelompok-kelompok bersenjata dari wilayah selatan Lebanon yang menargetkan beberapa kota di Israel utara. Serangan tersebut mengakibatkan kerusakan infrastruktur dan memicu respons militer Israel yang substansial.

Aksi militer tersebut, yang terjadi beberapa waktu lalu, telah menimbulkan kecaman luas dari komunitas internasional dan memperbarui tekanan terhadap Beirut untuk mengendalikan kelompok-kelompok non-negara bersenjata di dalam perbatasannya.

Kendati demikian, tantangan implementasi larangan ini diprediksi sangat besar. Hizbullah, yang merupakan kekuatan politik dan militer dominan di Lebanon, memiliki jaringan yang luas dan dukungan signifikan dari sebagian populasi, serta persenjataan yang canggih.

Larangan ini dapat memicu ketegangan internal yang serius antara pemerintah pusat dan Hizbullah, yang secara historis memiliki peran ganda sebagai partai politik dan milisi bersenjata. Sejak konflik sipil Lebanon, Hizbullah tetap menjadi satu-satunya kelompok yang mempertahankan persenjataannya setelah penarikan pasukan Israel dari Lebanon selatan pada tahun 2000.

Perdana Menteri Mikati menyatakan bahwa keputusan ini diambil setelah konsultasi mendalam dengan berbagai pihak, termasuk pemimpin agama, kepala militer, dan perwakilan komunitas internasional, untuk mencari konsensus nasional demi menjaga perdamaian.

Reaksi awal dari perwakilan Hizbullah belum disampaikan secara resmi, namun para pengamat politik memprediksi adanya resistensi keras. Kelompok ini selama ini berargumen bahwa keberadaan sayap militernya esensial untuk pertahanan Lebanon dari ancaman eksternal, khususnya dari Israel.

Para analis politik menilai bahwa langkah Mikati merupakan upaya strategis untuk memperkuat posisi Lebanon di mata dunia, terutama negara-negara Barat dan Teluk, yang telah lama mendesak Beirut untuk mengendalikan Hizbullah.

Langkah ini juga berpotensi membuka jalur untuk bantuan ekonomi dan keuangan yang sangat dibutuhkan Lebanon, asalkan pemerintah dapat menunjukkan komitmen serius dalam menegakkan otoritas negara atas seluruh wilayah dan kelompok bersenjata.

Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa, melalui juru bicaranya, menyambut baik setiap langkah yang bertujuan untuk meredakan ketegangan dan menjaga stabilitas regional, mendesak semua pihak untuk menahan diri dan mematuhi resolusi internasional.

Di sisi lain, Israel telah secara terbuka menuntut pemerintah Lebanon untuk bertanggung jawab penuh atas setiap serangan yang dilancarkan dari wilayahnya. Oleh karena itu, larangan ini dapat dilihat sebagai upaya Beirut untuk memenuhi tuntutan tersebut dan menghindari konsekuensi lebih lanjut.

Pemerintah Lebanon di bawah kepemimpinan Mikati menghadapi dilema pelik: menyeimbangkan kebutuhan akan kedaulatan negara dengan realitas kekuatan Hizbullah di lapangan. Keberhasilan implementasi larangan ini akan menjadi ujian krusial bagi masa depan politik dan keamanan Lebanon.

Para diplomat di kawasan berharap, kebijakan ini akan menjadi pijakan awal bagi dialog nasional yang lebih komprehensif mengenai status kelompok bersenjata non-negara di Lebanon, demi tercapainya stabilitas jangka panjang yang sangat diidamkan.

Pengawasan internasional terhadap perkembangan ini akan sangat ketat. Dunia menanti apakah keputusan berani Perdana Menteri Mikati ini mampu mengubah dinamika kompleks di Lebanon dan mencegah potensi konflik regional yang lebih luas.

Informasi Valid Sumber Referensi Resmi
www.google.com
Debby Wijaya

Tentang Penulis

Debby Wijaya

Jurnalis dan Editor di Cognito Daily. Menyajikan informasi terkini dan faktual untuk pembaca.

Bagikan Artikel:

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!