JAKARTA — Sidang lanjutan kasus penyiraman air keras yang menimpa Andrie Yunus kembali digelar hari ini, Selasa, 21 April 2026, di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, dengan menampilkan bukti visual krusial berupa foto luka wajah terdakwa. Pembuktian ini diharapkan dapat mengungkap detail baru terkait insiden brutal yang menggemparkan publik akhir tahun 2025 lalu, serta memperkuat argumentasi tim kuasa hukum terdakwa yang mengklaim adanya perlawanan.
Foto-foto yang diperlihatkan di hadapan Majelis Hakim dan jaksa penuntut umum tersebut menunjukkan sejumlah luka sayatan dan lecet di area pipi serta dahi terdakwa, yang diidentifikasi berinisial R. Tim pembela berargumen bahwa luka-luka tersebut merupakan akibat dari pergulatan dan upaya membela diri saat insiden terjadi, bukan semata-mata dampak percikan air keras.
Andrie Yunus, korban penyiraman air keras yang sebelumnya telah memberikan kesaksian dengan kondisi fisik yang masih dalam pemulihan, diketahui mengalami kerusakan parah pada beberapa bagian tubuhnya, terutama wajah dan leher. Kasus ini sejak awal menarik perhatian luas karena kekejaman aksi tersebut dan latar belakang perseteruan bisnis yang diduga menjadi motif.
Dalam persidangan, seorang ahli forensik dihadirkan untuk menganalisis karakteristik luka pada wajah terdakwa dan hubungannya dengan kronologi kejadian. Saksi ahli menjelaskan potensi luka akibat benda tumpul atau tajam yang mungkin muncul dalam situasi pergulatan intens, mendukung narasi yang dibangun oleh pihak terdakwa.
Namun, jaksa penuntut umum tetap bersikukuh bahwa luka-luka tersebut tidak cukup kuat untuk membuktikan adanya perlawanan yang signifikan. Jaksa menegaskan bahwa motif utama penyerangan adalah dendam terencana, dan bukti-bukti lain, termasuk rekaman CCTV di sekitar lokasi kejadian, menunjukkan aksi terdakwa dilakukan dengan kesadaran penuh.
Persidangan ini terus-menerus menjadi sorotan publik dan media, mengingat sensitivitas kasus kekerasan air keras yang kerap meninggalkan trauma mendalam bagi korbannya. Setiap detail dan bukti yang muncul selalu menjadi perbincangan hangat, baik di ruang sidang maupun di platform digital.
Pengacara terdakwa, Bapak Haris Subianto, menyatakan dalam wawancaranya usai sidang, “Klien kami bukan pelaku tunggal yang tanpa motif atau reaksi. Luka di wajahnya adalah bukti nyata bahwa ada perlawanan dari korban, yang memicu percikan air keras mengenai dirinya sendiri. Ini bukan sekadar penyerangan sepihak.”
Sementara itu, Ibu Devi Kurniasih, perwakilan dari jaksa penuntut umum, menanggapi, “Kami menghormati setiap bukti yang diajukan, namun kami yakin bahwa narasi pembelaan ini tidak akan mengubah fakta inti dari aksi keji yang dilakukan. Bukti kuat lain akan kami sajikan pada agenda selanjutnya.”
Kasus penyiraman air keras memang menjadi perhatian serius aparat penegak hukum di Indonesia. Serangkaian insiden serupa dalam beberapa tahun terakhir telah mendorong urgensi untuk memperkuat regulasi dan sanksi pidana bagi para pelakunya, demi menciptakan efek jera dan melindungi masyarakat.
Sidang akan dilanjutkan pekan depan dengan agenda mendengarkan keterangan saksi ahli tambahan dari pihak korban serta pembacaan pledoi oleh terdakwa. Publik menanti putusan akhir yang diharapkan mampu memberikan keadilan bagi seluruh pihak terkait.